081211029060

psikologis wanita aborsi

Mengapa Aborsi?

Aborsi adalah salah satu bentuk penanganan terhadap kondisi kehamilan yang tidak diinginkan. Alasan-alasan yang melatar belakangi aborsi dapat bervariasi dan bersifat pribadi. Beberapa di antaranya adalah alasan ekonomi, kehamilan di usia lanjut, kesiapan diri menjadi orang tua, mengejar karir, dan faktor kekerasan seksual.

Gangguan Stres Pasca-Trauma

Gangguan Stres Pasca-Trauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) menyerang mereka yang pernah mengalami kejadian mengejutkan, menakutkan atau membahayakan di dalam kehidupan. Rasa takut adalah respon yang wajar muncul di saat kita sedang atau telah mengalami kejadian serius. Beberapa orang menunjukkan reaksi yang berbeda-beda dalam menghadapi kejadian traumatis, dan kebanyakan akan berangsur pulih secara perlahan atau bertahap.

Bagi mereka yang terus mengalami masalah karena trauma biasanya didiagnosa Gangguan Stres Pasca-Trauma. Pasien Gangguan Stres Pasca-Trauma biasanya akan sering merasa stres atau takut meski saat itu tidak ada kejadian yang serius.

Sindrom Stres Pasca-Aborsi

Sindrom Stres Pasca-Aborsi atau Post Abortion Stress Syndrome (PASS) adalah efek psikologis berkelanjutan pasca aborsi. Karena gejala dan ciri yang ditunjukkan sama dengan pengidap PTSD, PASS sering dikaitkan atau dianggap sebagai bagian dari PTSD. Sebutan Sindrom Stres Pasca-Aborsi bukanlah sebutan yang resmi diakui secara medis, tetapi sering dipakai dalam penanganan pasien-pasien trauma pasca aborsi.

Setiap kejadian traumatis, tidak terkecuali aborsi, dapat berlanjut pada PTSD. Oleh karena itu bantuan konseling yang suportif dan konstruktif dalam penanganan trauma sangat dibutuhkan.

Apa Yang Mendorong Aborsi Menjadi Sebuah Kejadian Traumatis?

Tidak semua aborsi dapat memicu terjadinya trauma. Ada yang lega karena merasa terlepas dari himpitan masalah, tetapi hampir semuanya setuju bahwa aborsi bukanlah pilihan yang mudah.

Beberapa psikiater yang menangani pasien Sindrom Stres Pasca-Aborsi menyimpulkan bahwa kesadaran adanya proses kehidupan sedang terbentuk di dalam kandungan berdampak pada kondisi psikis dan emosional seorang perempuan. Bagi yang tidak menyadari ini sampai saat kelahiran bayi cenderung terhindar dari gangguan negatif kejiwaan.

Aborsi dapat menjadi sebuah trauma karena beberapa faktor:

  • Aborsi dilakukan terpaksa, atau di bawah pengaruh tekanan

Beberapa riset menunjukkan bahwa kebanyakan perempuan melakukan aborsi di bawah pengaruh tekanan dari orang sekitar maupun situasi. Hal ini dapat beresiko trauma. Menurut terapis jiwa dari San Fransisco, Susanne Babbel, bagi mereka yang berada dalam kondisi seperti ini aborsi adalah satu-satunya jalan keluar untuk melepaskan diri dari tekanan atau stres. Tekanan untuk aborsi bisa datang dari mana saja : orang tua pasien, pasangan, atau dokter yang karena alasan tertentu tidak menghiraukan keinginan pasien untuk mempertahankan kehamilan.

  • Aborsi melalui metode medis

Faktor penyebab lainnya bisa jadi karena metode aborsi itu sendiri. Penggunaan obat aborsi sering dilakukan di lokasi-lokasi yang bersifat pribadi seperti di rumah sendiri. Tidak jarang mereka yang melakukan aborsi dengan obat-obatan merasa terkejut dan stres setelah melihat sisa-sisa janin yang diterminasi. Terkadang disertai rasa sakit fisik yang hebat. Ketahuilah yang mana cara aborsi terbaik untuk anda. Klinik Aborsi atau dengan Obat? klik disini.

  • Pasien memiliki riwayat depresi, mengalami kekerasan atau masalah kejiwaan lainnya

Salah satu faktor utama terjadinya stres pasca aborsi adalah riwayat gangguan kejiwaan seperti depresi atau gelisah. Beberapa pasien yang tidak beruntung mengalami kekerasan seksual yang berujung pada kehamilan. Korban kekerasan seperti ini cenderung lebih sulit untuk melepaskan diri dari gangguan kejiwaan.

  • Tidak adanya dukungan dalam proses aborsi

Perempuan yang menjalani aborsi tanpa adanya dukungan emosional, konseling atau mengalami tekanan moral akan menyimpan kegelisahan secara pribadi. Sebaliknya, adanya dukungan emosional juga tidak akan membantu jika pasien memilih untuk menghadapi proses aborsi sendirian. Dampaknya pada mental dan kejiwaan akan terus berlanjut dalam waktu yang cukup lama.

Dapatkah PASS Disembuhkan?

Proses penyembuhan harus dimulai dari orang-orang terdekat seperti keluarga atau sahabat. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menghilangkan stres pasca trauma antara lain :

  • Mencari Pertolongan dari tenaga profesional seperti psikolog atau terapis jiwa. Tidak semua perempuan memiliki permasalahan atau kondisi yang sama satu dengan yang lain. Jika memang aborsi menjadi satu-satunya solusi, adanya opini yang mampu menenangkan pasien akan sangat membantu dalam menghindari trauma. Kunjungi Klinik Aborsi Jakarta, untuk mendapatkan penanganan aborsi secara legal dan terbaik melalui tenaga profesional dokter spesialis kandungan.
  • Dalam menghadapi situasi kehamilan yang tidak diinginkan perempuan lebih memilih menyendiri demi jaminan keprivasian. Sebisa mungkin tetaplah menjalin komunikasi dengan orang-orang terdekat seperti keluarga atau teman yang dapat mendukung keputusan yang akan diambil.
  • Hindari tekanan dari orang-orang yang mencoba memaksakan pilihan berbeda. Keputusan untuk melahirkan, adopsi ataupun aborsi sebaiknya tetap di tangan pasien dan bukan karena faktor keterpaksaan.
  • Berbicaralah dengan orang-orang yang pernah mengalami masalah yang sama. Pengalaman mereka menjalani proses aborsi dan mengatasi trauma dapat menjadi referensi terbaik.