081211029060

Abortus Incomplete adalah masalah serius yang sering dianggap sepele.

Pada tahun 2010 WHO mengeluarkan pernyataan bahwa aborsi metode surgical (Vakum aspirasi) dengan dokter ObGyn adalah metode aborsi yang sangat dianjurkan dan paling aman.

Memang selain lebih aman, efisien dan tuntas 100%. Aborsi yang dilakukan oleh dokter spesialis di Klinik Aborsi Aman memiliki tingkat keberhasilan yang sangat tinggi.

Disisi lain, tahukah Anda beberapa penelitian menunjukkan bahwa aborsi dengan metode medikasi (Obat Aborsi) dapat menimbulkan efek samping seperti abortus incomplete.

abortus inkomplit

Apakah Abortus Inkomplit?

Bagi Anda yang bertanya-tanya, abortus incomplete atau abortus inkomplit adalah kondisi komplikasi yang diakibatkan aborsi tidak selesai 100%. Meski proses kehamilan tidak berjalan lagi dan fetus berhenti berkembang, tetapi sebagian jaringan fetus masih tertinggal atau kandungan tidak bersih seluruhnya.

Hasilnya adalah pendarahan terus-menerus bahkan di luar masa haid atau pendarahan yang lebih banyak daripada haid biasanya.

Jika Anda memiliki gejala-gejala seperti ini pasca mengonsumsi obat-obatan seperti Mifepristone atau Misoprostol, sangat disarankan untuk menemui dokter kandungan secepat mungkin dan menjalani ultrasound (USG), untuk kemudian melaksanakan tindakan yang dibutuhkan agar kondisi Anda dapat diatasi.

Penyebab Abortus Inkomplit

Konsumsi obat-obatan seperti Mifepristone dan Misoprostol meski dianggap lebih instan dan bisa dilakukan sendiri untuk prosedur aborsi, tetapi memiliki efek komplikasi seperti abortus inkomplit.

Pada tahun 2017 dilakukan beberapa penelitian untuk melihat seberapa sering kemungkinan komplikasi ini dapat terjadi.

  • Pada usia kehamilan 0 – 77 hari resiko terjadinya abortus incomplete 1,6%
  • Pada usia kehamilan 78 – 83 hari resiko terjadinya abortus incomplete 2,6%
  • Pada usia kehamilan 83 – 91 hari resiko terjadinya abortus incomplete 3,4%

Dalam pengklasifikasian obat-obatan, Mifepristone sering disebut dengan steroid anti progestasional.

Mifepristone bekerja dengan cara menahan aktivitas progesteron, hormon yang mengontrol kesuburan dan menstruasi dalam tubuh, sehingga proses kehamilan tidak berlanjut.

Di India sendiri penggunaan Mifepristone dan Misoprostol diatur dalam Undang-Undang Terminasi Medikasi Kehamilan (MTP Act). Dosis penganjuran 200 mg Mifepristone dilanjutkan dengan 400 µg Misoprostol secara oral ataupun melalui vagina disarankan hanya untuk usia kehamilan sampai dengan 63 hari.

Itu pun dengan berbagai kemungkinan efek samping. Resiko kemungkinan untuk komplikasi dikhawatirkan akan lebih besar saat usia kehamilan sudah di atas 63 hari.

Hal ini dapat diperburuk lagi jika pasien memiliki riwayat kesehatan pendarahan, anemia, atau jika pasien sedang mengonsumsi obat-obatan anti coagulant seperti aspirin, apixaban (Eliquis), dabigatran (Pradaxa), dalteparin (Fragmin), edoxaban (Savaysa), enoxaparin (Lovenox), fondaparinux (Arixtra), heparin, rivaroxaban (Xarelto), atau warfarin (Coumadin, Jantoven).

Dampak Abortus Incomplete Yang Perlu Anda Ketahui

Abortus Incomplete sering diasosiasikan dengan pendarahan terus menerus atau pendarahan hebat dan rasa sakit yang tak tertahankan di perut.

Di India, 65% pasien dengan abortus incomplete sampai membutuhkan transfusi darah karena tidak mengetahui efek samping dari medikasi aborsi dan menganggap remeh pendarahan yang mereka alami.

Efek lain dari abortus incomplete adalah infeksi serius dan berbahaya. Beberapa pasien tercatat meninggal karena infeksi setelah mengonsumsi Mifepristone atau Misoprostol untuk menghentikan proses kehamilan mereka.

Saat Anda terkena infeksi serius, gejala yang Anda peroleh mungkin tidak banyak atau tidak berlebihan.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda memiliki gejala-gejala : demam di atas 100,40 F (380 C) yang bertahan selama lebih dari 4 jam, rasa sakit hebat pada area pinggang ke bawah, menggigil, jantung berdetak kencang atau pingsan.

Selain itu Anda juga perlu mewaspadai gejala-gejala umum seperti : lemas, mual, muntah, diare, atau merasa sakit 24 jam setelah mengonsumsi Mifepristone meskipun Anda tidak demam atau merasakan nyeri di area pinggang ke bawah.

Karena resiko komplikasi yang serius dan berbahaya dari Mifepristone dan Misoprostol, obat-obatan ini di banyak negara termasuk Indonesia tidak dijual bebas dan harus melalui referensi atau resep dokter.

Oleh karena itu pula, Klinik Aborsi Jakarta tidak menganjurkan penggunaan obat-obatan ini sebagai cara menggugurkan kandungan yang aman. Inilah metode aborsi aman yang digunakan di klinik aborsi Jakarta.