Hamil Kembali Setelah Aborsi

Posted on Updated on

Banyaknya pertanyaan yang muncul,  memaksa kami untuk membuat artikel ini. “Dok, bisakah saya hamil kembali setelah aborsi?” Pertanyaan tersebut berkali-kali diutarakan beberapa pasien kami, baik sebelum tindakan maupun sesudah tindakan aborsi dilakukan. Siklus haid akan kembali normal beberapa minggu setelah aborsi bahkan wanita dapat berovulasi pada minggu pertama atau kedua pasca aborsi. Mungkin pertanyaan yang muncul dibenak anda “berpengaruh gak sih sama kehamilan saya berikutnya setelah saya selesai aborsi?”. Itu menurut kami adalah pertanyaan yang wajar. Bagi sebagian besar wanita yang hamil sebelum melakukan aborsi wajib melakukan konsultasi kepada dokter. Segala hal dapat dikonsultasikan, mulai dari proses aborsi sampai resiko yang mungkin muncul jika terjadi kesalahan penanganan aborsi. Kesalahan penanganan aborsi dapat terjadi meliputi beberapa faktor, itu akan dibahas secara detil oleh dokter. Sekarang yang akan kita bahas adalah bisakah wanita hamil kembali setelah melakukan aborsi?

hamil setelah aborsi

Baca : Cara Mengetahui Tanda-tanda Kehamilan

Nah, berikut akan kami jelaskan kepada anda tentang hamil setelah aborsi :

Sumber Ilmiah

Hasil dari suatu kajian menunjukkan bahwa bila perempuan pernah aborsi dengan kuret atau vakum, maka hal-hal seperti ketidak-suburan, kehamilan ektopik, prematur, dan lannya tidak berpengaruh pada kehamilan berikutnya. Anda tidak perlu khawatir, karena setelah melakukan aborsi anda tetap bisa hamil dengan normal tanpa ada resiko atau kelainan apapun. Lain halnya bila pengguguran kandungan dilakukan dengan obat-obatan penggugur kandungan seperti : Mifeprostone, cytotec, mifeprex dan lainnya. Selain rasa sakit/kram pada perut, penggunaan obat aborsi juga dapat menimbulkan komplikasi pada rahim. Tindakan aborsi yang tidak melalui prosedur medis yang benar tentu juga akan membahayakan kesehatan rahim anda untuk jangka panjang kedepan. Akhir-akhir ini marak terjadi klinik aborsi yang tidak ditangani oleh dokter spesialis, melainkan oleh dokter umum! Penanganan yang  i-legal seperti ini tentunya akan membahayakan kesehatan pasien dan beresiko menimbulkan kejadian-kejadian seperti : Peluruhan janin yang tidak tuntas dan luka pada rahim yang dapat mengakibatkan pendarahan atau infeksi. Nah, kesalahan penanganan inilah yang dapat mempengaruhi kehamilan anda berikutnya. Resiko seperti cacat lahir, kehamilan ektopik, ketidak-suburan sampai pendarahan dapat terjadi.

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil adalah wanita yang melakukan aborsi secara benar yaitu di klinik aborsi dengan ditangani oleh dokter tentunya akan mendapatkan kualitas aborsi yang baik. Ketika anda aborsi di klinik aborsi legal yang tepat dengan alat yang steril, tim dokter yang handal, serta manajemen klinik yang baik pasti akan terhindar dari resiko diatas. Ketika poin itu tidak dapat dipisahkan, itu sudah menjadi satu kesatuan agar suatu klinik dapat dikatakan baik. Hamil setelah aborsi adalah hal yang sangat mungkin terjadi, bahkan apabila sang wanita melakukan hubungan badan tanpa kontrasepsi beberapa hari setelah aborsi, maka besar kemungkinan kehamilan baru akan terjadi kembali. Maka biasanya dokter akan menganjurkan selama 1-2 bulan tidak melakukan hubungan badan, ini dilakukan untuk menunggu hormon sang wanita kembali normal.

Advertisements